Monthly Archives: April 2010

Discover Your Destiny

Di zaman dahulu ada seorang Jenderal dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak. Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan.

Dalam perjalanan menuju medan perang, sang Jenderal berhenti di sebuah altar wihara. Ia melakukan sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. Sedangkan prajuritnya menanti di luar wihara dengan harap-harap cemas.

Tak lama kemudian, sang Jenderal keluar dari wihara. Ia berteriak pada seluruh pasukannya, “Kita telah mendapat petunjuk dari langit.” Lalu, ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, “Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada nasib.”

Jenderal lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di udara. Lalu jatuh berguling-guling di tanah. Seluruh pasukan mengamati apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu terhenti. Dan yang muncul adalah KEPALA. Kontan seluruh pasukan berteriak kesenangan. “Horee..! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita. Ayo serbu dan hancurkan musuh. Kemenangan telah pasti.”

Dengan penuh semangat, sang Jenderal dan pasukannya bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dengan bekal keyakinan dan tekad baja, akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. Jenderal dan seluruh pasukannya betul-betul senang. Seorang prajurit berkata, “Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib.”

Sesampai di ibu kota, mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dahsyat itu. Beliau bertanya pada sang Jenderal bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. Sang Jenderal kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, “Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik.”

Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata kedua sisinya bergambar: KEPALA..!

Inspirasi: Tsai Chih Chung

Menggedor Blok Mental Kita




Dikisahkan, pada tahun 1801 pada sebuah lembah di Italia. Tersebutlah dua orang sepupu bernama Pablo dan Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di sebuah desa kecil di lembah itu. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai kemajuan.

Keduanya adalah pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Memendam cita-cita yang sama tingginya. Keduanya juga sama-sama menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.

Keduanya sering berkhayal, suatu ketika nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian itu. Mereka percaya pada suatu hari kesempatan tersebut akan menjumpai mereka.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Apa yang mereka tunggu selama ini datang mengetuk pintu rumah mereka. Desa di mana mereka tinggal termasuk daerah yang sulit air. Kepala desa kemudian memutuskan untuk mempekerjakan dua orang untuk mengangkut air dari sungai yang terletak di pinggir desa, ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa itu. Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.

Tanpa buang waktu lama-lama, keduanya langsung membawa dua ember dan segera menuju sungai. Sepanjang siang, keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air desa sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya berdasarkan jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa.

“Wow, apa yang kita cita-citakan selama ini akan terkabul!” teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini.”

Namun, Pablo tidak begitu gembira, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Pulang ke rumah, Pablo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu karena sepanjang hari telah membawa ember-ember berat berisi air bolak-balik dari sungai ke penampungan air. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja.

Hal ini membuat Pablo berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka. Tanpa perlu harus menanggung rasa nyeri di punggung dan tanpa perlu melakukan hal itu seumur hidupnya.

Setelah semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan solusi bagi pekerjaan ini, keesokan harinya sambil membawa ember-ember mereka, Pablo berkata kepada Bruno.

“Bruno, aku punya rencana.” Pablo memulai.. “Daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita?”

Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. “Saluran pipa air ? Ide dari mana itu!” kata Bruno tegas.

“Pablo. Kita kan telah punya pekerjaan yang sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah. Aku bisa membawa 100 ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan, ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun rumah kecil. Kau lihat Pablo, tidak ada pekerjaan yang semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagi pula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut mana pun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun saluran pipa airmu itu,” Bruno merepet panjang lebar.

Tapi, Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar, dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Sementara Bruno tidak beranjak sedikit pun dengan tawaran Pablo. Akhirnya, Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkut ember-ember air itu. Sementara sisa waktunya, ditambah pada hari libur di akhir minggu, dia pakai untuk membangun saluran pipa itu.

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, dia telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkan dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air.

Pablo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis menurun. Dia juga sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang dia harapkan. Namun, Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu, dia terus bekerja tanpa kenal lelah.

Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”.

Bruno, yang mempunyai penghasilan dua kali lipat dibandingkan Pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.

Bruno juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang terbuat dari kulit yang baru. Dia menambatkan keledainya itu di rumah barunya yang kini terdiri dari dua lantai itu. Dia juga membeli baju-baju yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung. Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini, orang-orang di desa memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya ke mana pun dia pergi.

Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di bar, karena mereka selalu ikut tertawa ketika dia menceritakan lelucon-leluconnya.

Kini, pemandangan kontras mulai tampak di antara kedua sahabat itu. Sementara Bruno asyik berbaring santai di tempat tidur gantungnya (hammock) di sore hari, pada akhir minggu, Pablo tampak terus berlelehan keringat menggali saluran pipanya.

Pada bulan-bulan awal, usaha Pablo tidak menunjukkan hasil apa pun. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat. Bahkan, jauh lebih berat yang dilakukan Bruno. Selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.

Tapi, Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari, dia terus menggali. Centi demi centi!

Pepatah yang selalu diingat Pablo adalah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus meter dan seterusnya…

Pablo mulai melihat hasil kerjanya…

Pepatah lain yang diingat Pablo adalah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kata-kata tersebut selalu ia tanamkan pada dirinya setelah ia kembali ke gubuknya yang sederhana sepulang dari bekerja. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang akan dicapainya. Caranya, setiap hari dia menetapkan sasaran yang akan dicapainya. Lalu, dia akan berusaha keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.

“Fokuslah pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu.” Kata-kata itu terus diingat Pablo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi. Fokus, fokus, fokus… imbalannya pasti jauh lebih besar…

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia hanya perlu berjalan separuh dari jarak yang biasa dia tempuh untuk mengambil air sungai itu. Waktu yang tersisa kini ia gunakan untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun semakin dekat dan nyata…

Setiap saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Bruno juga tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha ia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa “ditakdirkan” untuk terus-menerus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Bruno semakin jarang tampak bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar itu biasanya akan saling berbisik, “Eh, lihat Bruno, si manusia ember.” Mereka juga saling tertawa geli saat beberapa orang mabuk meniru postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok. Bruno tidak lagi pernah mentraktir teman-temannya di bar, atau menceritakan lelucon-lelucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di sekelilingnya.

Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipa yang dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapatkan pasokan air bersih secara tetap. Bahkan, penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran air itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat ia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak kesenangan. Semakin banyak orang yang menggunakan airnya, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.

Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan Pablo si Manusia Saluran Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib. Para politisi memuji-muji dia karena visinya yang jauh ke depan. Mereka bahkan meminta Pablo mau mencalonkan diri menjadi wali kota. Tetapi, Pablo paham sekali apa yang sesungguhnya ia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.

Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaan di seluruh dunia! Pablo mulai mengajak orang-orang lain untuk mengikuti jejaknya, terutama para pembawa ember. Tetapi, hanya sedikit yang mau mengikuti jejak dan nasihatnya.

“Saya tidak ada waktu.”

“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha untuk membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”

“Hanya mereka yang terlebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”

“Seumur hidup saya hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya akan tetap mempertahankan profesi saya itu.”

“Saya tahu, ada orang-orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa seperti itu. Jadi, saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tak mau rugi.”

Demikianlah sebagian alasan yang sering diungkapkan para pembawa ember ketika diajak untuk membangun saluran pipanya sendiri. Ternyata, banyak sekali orang yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi untuk mencapai kesuksesan melalui saluran pipa. Sikap seperti ini bisa juga mempengaruhi kita. Karena, kita hidup di dunia yang didominasi oleh mental Pembawa Ember.

The Power of Relaxation; Sejenak Mengistirahatkan Otak



Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya. “Seberapa berat menurut Anda kira-kira segelas air ini?”

Para siswa menjawab, mulai dari 200 gr sampai 500 gr. “Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan, jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey.

“Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi, sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban tersebut.”

“Bukan beban berat yang membuat kita stres, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut,” simpul Covey.

Setiap saat, kita senantiasa perlu belajar masuk ke dalam ketenangan dan keheningan, dan belajar melepaskan semua beban di kepala kita. Bagaimana caranya? Cukup dengan menyadari saja dan rileks, serta membiarkan otak kita istirahat dari aktivitas berpikir yang tidak perlu.

Pikiran akan selalu memilah, menghakimi, dan mengikuti cara berpikir yang dianggap benar olehnya. Bila kita berpikir tanpa disertai kesadaran bahwa kita sedang berpikir, maka kita akan terseret oleh permainan pikiran yang tidak ada habisnya.

Pada saat kita merasa marah dan frustrasi, pastilah pikiran kita sangat ribut dan tidak dapat berpikir dengan jernih. Apa yang dapat kita lakukan saat itu agar dapat merasa lebih baik? Satu-satunya adalah mengistirahatkan otak kita dari aktivitas berpikir yang kalut, dan itu bisa dilakukan dengan banyak cara.

Ada yang dengan mendengarkan musik sehingga pikirannya teralihkan. Ada yang dengan pergi jalan-jalan. Ada yang dengan curhat. Ada yang dengan memuntahkan segala uneg-unegnya dengan berteriak agar menjadi letih. Ada yang menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan atau kepada seseorang yang ia percaya. Ada yang menggunakan mantra untuk menenangkan pikirannya.

Bisa juga dengan menyadari saja dan rileks, dan membiarkan otak kita beristirahat dari segala aktivitas pikiran. Hal ini mirip seperti tidur pulas. Tidak perlu lama-lama, setelah 5–10 menit kita akan merasa lebih segar. Pada saat itu, kita barulah mulai menganalisis kembali dengan menggunakan pikiran. Setelah rileks itu, kita akan lebih bisa berpikir dengan jernih.

Tapi tentu saja, relaksasi ini tidak dapat membuat Anda begitu saja melepaskan semua permasalahan hidup Anda yang telah mengakar dan berurat saraf dalam bawah sadar Anda. Misalnya, rasa takut akan gelap, trauma, minder, dan sebagainya. Relaksasi ini akan membuat Anda lebih bisa berpikir dengan jernih dan melihat situasi dan kondisi dengan lebih baik. Dan berita baiknya, relaksasi ini akan langsung kita rasakan manfaatnya begitu dipraktikkan. Bila Anda sudah terbiasa melakukan hal ini, maka relaksasi akan berlangsung alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah Anda sedang berjalan, berbaring, duduk atau berdiri, menunggu di bus, lagi BAB, kita dapat masuk dalam keadaan yang hening.

plusplusmindset.com

Basic Need; Bersyukur dan Bahagia

Basic Need; Bersyukur dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Ah. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi, kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

“Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya, dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini, aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hamba-Mu hendak beristirahat.”

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”

“Terima kasih, Anak muda. Boleh Bapak bertanya?” tanya si pedagang.

“Silakan.”

“Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”

“Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apa pun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya, dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini.”

My brother and my sister, kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apa pun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia.

by don azido

About Success (Tentang Kesuksesan)

Euripides ~
Along with success comes a reputation for wisdom.

seiring dengan kesuksesan, reputasi bijaksana selalu selalu mengikutinya.

Virgil ~
They can because they think they can.

Mereka bisa karena mereka berpikir bahwa mereka bisa.

Thomas Jefferson ~
Nothing can stop the man with the right mental attitude from achieving his goal; nothing on earth can help the man with the wrong mental attitude.

Tidak ada yang bisa menghentikan seseorang yang memiliki sikap mental yang tepat dari meraih impiannya; tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa menolong seseorang dengan sikap mental yang salah.

Theodore T. Hunger ~
Keep steadily before you the fact that all true success depends at last upon yourself.

Bersiap-siaplah selalu sebelum kesuksesan benar-benar datang kepada anda.

Cicero ~
We are all motivated by a keen desire for praise, and the better a man is, the more he is inspired to glory.

Kita semua termotivasi oleh keinginan yang kuat untuk dipuji, dan sebaik-baiknya orang adalah orang yang semakin hari semakin terinspirasi untuk mendapatkan kemuliaan.

Robert Collier ~
Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out.

Kesuksesan merupakan hasil penjumlahan dari berbagai usaha dalam skala kecil, yang selalu terjadi secara berulang-ulang setiap hari.

Frank Loyd Wright ~
The thing always happens that you really believe in; and the belief in a thing makes it happen.

Sesuatu akan terjadi jika anda benar-benar yakin bahwa hal itu akan terjadi. dan keyakinanlah bisa menjadikan sesuatu itu terjadi.

Elbert Hubbard ~
A failure is a man who has blundered, but is not able to cash in on the experience.

Kegagalan adalah manakala seseorang telah jatuh, tetapi ia tidak mampu belajar dari pengalamannya (yang pernah jatuh).

Christopher Morley ~
There is only one success–to be able to spend your life in your own way.

Hanya ada satu kesuksesan–yaitu mampu menghabiskan waktu anda dengan cara anda sendiri.

A. Branson Alcott ~
Success is sweet: the sweeter if long delayed and attained through manifold struggles and defeats.

Sukses itu manis: akan semakin manis jika datangnya terlambat dan bisa dicapai melalui usaha yang bermacam dan berulang-ulang.

Aristotle Onassis ~
The secret of success is to know something nobody else knows.

Rahasia untuk mencapai kesuksesan adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain.

Owen Feltham ~
The greatest results in life are usually attained by simple means and the exercise of ordinary qualities. These may for the most part be summed in these two: common-sense and perseverance.

Hasil yang paling hebat di dalam hidup ini adalah biasanya dicapai dengan cara yang sederhana dan pengujian kualitas yang luar biasa. semua ini bisa disimpulkan dalam dua kata: tekad dan ketekunan.

Dennis Waitley ~
Failures do what is tension relieving, while winners do what is goal achieving.

Pecundang berusaha untuk menenangkan ketegangan, sementara pemenang/juara selalu berusaha untuk mencapai tujuan.

Vince Lombardi ~
The difference between a successful person and others is not a lack of strength, not a lack of knowledge, but rather a lack in will.

Hal yang membedakan antara orang yang sukses dan yang lain bukan terletak pada kurangnya kekuatan, bukan juga tidak adanya pengetahuan, tetapi pada kuranganya keinginan yang kuat.

Herbert Bayard Swope ~
I cannot give you the formula for success, but I can give you the formula for failure–which is: Try to please everybody.

Saya tidak bisa memberimu rumus kesuksesan, akan tetapi saya bisa memberi anda rumus untuk gagal: yaitu coba untuk menyenangkan semua orang.

Josh Billings ~
Success does not consist in never making blunders, but in never making the same one a second time.

Kesuksesan bukan berarti tidak pernah gagal, akan tetapi kegagalan itu tidak pernah membuat seseorang mengalami kegagalan yang sama untuk kedua kalinya.

Earl of Beaconsfield ~
The secret of success in life is for a man to be ready for his opportunity when it comes.

Rahasia kesuksesan dalam hidup ini adalah bahwa seseorang harus bersiap-siap memanfaatkan kesempatan ketika ia telah datang.

Evan Esar ~
Success is the good fortune that comes from aspiration, desperation, perspiration and inspiration.

Kesuksesan merupakan nasib baik yang datang dari sebuah aspirasi, kenekatan, keringat, dan juga inspirasi.

Richard Brinsley Sheridan ~
The surest way not to fail is to determine to succeed.

Cara yang paling meyakinkan untuk gagal adalah menentukan kesuksesan.

Jospeph Addison ~
If you wish success in life, make perseverance your bosom friend, experience your wise counselor, caution your elder brother, and hope your guardian genius.

Jika anda ingin sukses dalam kehidupan ini, maka belajarlah dari ketekunan teman anda, dari pengalaman penasihat anda yang bijaksana, dari perhatian kakak anda, dan juga harapan dari orang-orang yang mencintai anda.

Edwin H. Chapin ~
Impatience never commanded success.

Ketidaksabaran tidak akan pernah mengantarkan kepada kesuksesan.

Henry W. Longfellow ~
The talent of success is nothing more than doing what you can do, well.

Bakat untuk menjadi orang sukses tidak lebih berharga dari pada melakukan sesuatu yang bisa anda lakukan.

Shakespeare ~
To climb steep hills requires a slow pace at first.

Untuk bisa memanjat bukit yang tinggi diperlukan satu langkah yang pelan di awal.

Albert Einstein ~
Try not to become a man of success but a man of value.

Berusahalah untuk tidak menjadi orang yang sukses tetapi jadilah orang yang berharga.

W.C. Fields ~
If at first you don’t succeed, try, try again. Then quit. There’s no use being a damn fool about it.

Jika pada awalnya anda tidak sukses, cobalah dan teruslah mencoba. sedikti demi sedikit. Tidak ada gunanya anda terus larut dalam ketidakberhasilan anda.

About Wisdom (Kebijaksanaan)

Pierre Abelard ~
The beginning of wisdom is found in doubting; by doubting we come to the question, and by seeking we may come upon the truth.

Awal kebijaksanaan ditemukan di dalam keragu-raguan; dengan meragukan maka kita akan mengungkapkan tanya, dan dengan mencari kita akan sampai kepada kebenaran.

Herman Hesse ~
Wisdom is nothing but a preparation of the soul, a capacity, a secret art of thinking, feeling and breathing thoughts of unity at every moment of life.

Kebijaksanaan tiada lain kecuali persiapan jiwa, sebuah kapasitas, rahasia cara berpikir, perasaan, dan nafas dari pemikiran tentang penyatuan di setiap saat di dalam hidup.

J. Krishnamurti ~
Wisdom is the understanding of enduring values and the living of those values.

Kebijaksanaan merupakan pengertian terhadap nilai kritis dan hidup dari nilai itu sendiri.

Marcel Proust ~
We don’t receive wisdom; we must discover it for ourselves after a journey that no one can take for us or spare us.

Kita tidak menerima kebijaksanaan; kita harus mencarinya untuk diri kita sendiri setelah melewati suatu perjalanan yang tidak seorang pun bisa mengambilnya atau memisahkannya dari kita.

Theodore Isaac Rubin ~
Kindness is more important than wisdom, and the recognition of this is the beginning of wisdom.

Kebaikan itu lebih penting daripada kebijaksanaan, dan pengenalan terhadap hal ini merupakan awak daru sebuah kebijaksanaan.

Jonathan Swift ~
We should never be ashamed to own we have been in the wrong, which is but saying in other words, that we are wiser today than we were yesterday.

Kita tidak boleh malu untuk mengakui bahwa kita telah melakukan kesalaham, karena dengan demikian, kita telah menjadi lebih dewasa dibanding kemarin.

Rachel Naomi Remen ~
Until we stop ourselves or, more often, have been stopped, we hope to put certain of life’s events “behind us” and get on with our living. After we stop we see that certain of life’s issues will be with us for as long as we live. We will pass through them again and again, each time with a new story, each time with a greater understanding, until they become indistinguishable from our blessings and our wisdom. It’s the way life teaches us to live.

Hingga kita menghentikan diri kita sendiri atau, lebih seringnya, telah dihentikan, kita berharap untuk melupakan peristiwa-peristiwa yang baru saja kita alami dan melanjutkan hidup kita. setelah kita berhenti, kita akan melihat bahwa isu-isu kehidupan saat ini akan menimpa kita selama kita hidup. Kita akan melewatinya lagi dan lagi, setiap saat dengan kisah yang baru, dengan pengertian yang lebih hebat, hingga semua itu tak bisa dibedakan antara rahmat dan kebijaksanaan kita. Inilah cara hidup yang mengajarkan kita untuk hidup.

Unity (Kesatuan)

“Unity isn’t fought for and won. It is realized one person at a time.” ~ Alliance for a New Humanity website

“The earth is but one country and mankind its citizens.” ~ Baha’ullah

“People are not separated. They are individuated.” ~ Barbara Ann Brennan

“A mystic sees beyond the illusion of separateness into the intricate web of life in which all things are expressions of a single Whole. You can call this web God, the Tao, the Great Spirit, the Infinite Mystery, Mother or Father, but it can be known only as love.” ~ Joan Borysenko

“Do not follow the ideas of others, but learn to listen to the voice within yourself. Your body and mind will become clear and you will realize the unity of all things.” ~ Zen Master Dogen

“No man is an island, entire of itself; every man is a piece of the continent.” ~ John Donne

“We are part of the whole which we call the universe, but it is an optical delusion of our mind that we think we are separate. This separateness is like a prison for us. Our job is to widen the circle of compassion so we feel connected to all people and all situations.” ~ Albert Einstein

“The only real hope of people today… is a renewal of our certainty that we are rooted in Earth and, at the same time, in the cosmos. This awareness endows us with the capacity for self- trans-cendence. Transcendence as a hand reached out close to us, to foreigners, to the human community, to all living creatures, to nature, to the universe; transcendence as a deeply and joyously experienced need to be in harmony even with what we ourselves are not, what we do not understand, what seems distant from us in time and space, but with which we are nevertheless mysteriously linked because, together with us, all this constitutes a single world.”
~ Vaclav Havel

“Suppose you stand on a high place to enjoy the beauty of the sparkling sea below. You need do nothing to create that beauty; you need only BE IN THE SAME PLACE WHERE IT IS, and let nature do the rest. So it is with the inner life. There is nothing we can DO to gain psychic beauty. It already exists without our effort. We need only be where we belong, that is, in self-union. Then, beauty IS.”
~ Vernon Howard

“To love is to know that you live in union with all other creatures in a world that is itself alive and constantly becoming; in short, to live is to know that you exist in a world whose highest harmony is love.” ~ Daphne Rose Kingma

“At the heart of each of us, whatever our imperfections, there exists a silent pulse of perfect rhythm, a complex of wave forms and resonances which is absolutely individual and unique, and yet which connects us to everyrthing in the universe.”
~ George Leonard

“You can’t tell when this will happen. Usually we act as if we are autonomous, independent beings. But occasionally – at a waterfall, on a walk, hugging someone we love – we glimpse a trace of infinity. Something inside us remembers the oneness. ~ Daniel C. Matt

“The fundamental delusion of humanity is to suppose that I am here and you are there. ~ Yasutani Roshi

“The clear bead at the centre changes everything
There are no edges to my loving now
I’ve heard it said there’s a window that opens from one mind to another
But if there’s no wall, there’s no need for fitting the window, or the latch. ~ Rumi

“Each small task of everyday is part of the total harmony of the universe.”
~ St. Theresa of Lisieux

“Humankind has not woven the web of life. We are but one thread within it. Whatever we do to the web we do to ourselves. All things are bound together. All things connect.” ~ Chief Seattle

“If we have no peace it is because we have forgotten that we belong to each other.”
~ Mother Teresa