Doa Sang Mantan Perampok

Alkisah ada seorang ulama besar yang terkenal alim. Di samping alim, beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang tidak mau menjilat kepada penguasa. Beliau adalah orang yang teguh pendiriannya. Ulama tersebut tidak lain Fudzail bin Iyad. Seorang ulama yang memiliki masa lalu sebagai perampok. Kemudian setelah bertaubat, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Hingga setiap doanya, senantiasa dikabulkan oleh Allah Swt.
Sebagai seorang ulama yang enggan menjilat kepada penguasa, tentunya kehidupan rumah tangganya tidak diliputi dengan kecukupan harta dan kemewahan. Hidupnya hanyalah pas-pasan. Dengan sedikit rezeki dari Allah, cukuplah untuk menyambung hidup keluarganya. Beliau dikaruniai dua orang anak gadis yang sudah menginjak remaja.
Pada suatu ketika, ia memanggil istrinya, “Hai Istriku! Kalau aku sudah meninggal nanti, bawalah anak-anak kita ke Gunung Abu Qubais. Di sana tenggadahkan wajahmu ke langit dan berdoalah kepada Allah,” pesannya kepada sang istri tercinta.
Berdoalah kepada Allah, “Ya Allah. Fudzail menyuruhku untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada-Mu. Ketika aku masih hidup, kedua anak-anak yang tidak berdaya ini telah kulindungi dengan sekuat kemampuanku. Tetapi, setelah engkau mengurungku di alam kubur, mereka kuserahkan kepada-Mu kembali.”
Waktu pun terus berkejaran, hingga akhirnya kematian Fudzail pun tiba. Setelah jenazahnya dikebumikan, istrinya teringat kembali atas pesan suaminya sebelum meninggal. Kemudian istrinya mengajak kedua anak gadisnya menuju Gunung Abu Qubais. Tempat di mana sang suami pesankan kepadanya.
Setibanya di tempat yang dituju, istri Fudzail pun berdoa sambil menangis dan meratap kepada Allah. Ia pun berdoa seperti yang diajarkan oleh Fudzail kepadanya. Dan Allah maha mendengar dari apa yang dikehendaki oleh hamba-hamba-Nya. Sambil berisak tangis kepada Allah ia pun terus melanjutkan doanya.
Sementara itu, dengan kehendak Allah, pada saat itu juga melintas rombongan penguasa dari Yaman. Terlihat dua pangeran beserta kedua putranya memimpin rombongan tersebut. Melihat seorang wanita terisak menangis, rombongan itu pun berhenti.
Sang pangeran pun bertanya, “Apakah kemalangan yang menimpa diri kalian hingga kalian bertiga seperti itu di tempat ini?”
Istri Fudzail pun menjelaskan keadaan yang menimpa mereka. Bahwa mereka telah ditinggal mati oleh sang kepala rumah tangga. Sementara ia tidak mewariskan harta sama sekali. Dan kedua putrinya sudah saatnya untuk dinikahkan. Apa gerangan yang dapat dilakukan?
Mendengar penjelasan istri Fudzail itu, sang pangeran berkata, “Jika kedua putrimu itu kujodohkan dengan kedua putraku ini, bagaimana? Dan masing-masing dari keduanya kuberikan maskawin sepuluh ribu dinar, apakah engkau mau menerimanya?”
Mendengar perkataan sang pangeran itu, istri Fudzail setengah tidak percaya. Ia tampak bengong dan akhirnya berteriak gembira seraya berkata, “Baiklah pangeran, saya terima.” Akhirnya dengan memakai tandu-tandu dan permadani mewah, istri Fudzail dan kedua anak gadisnya diboyong ke negeri Yaman.
Sesampainya di negeri tersebut, pesta pernikahan pun diselenggarakan dengan meriah dan suka ria. Istri Fudzail pun tidak berhenti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah Swt. Doa Fudzail untuk kedua anak gadisnya telah dikabulkan oleh Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s