Pemikiran Lebih Mahal dari Harta

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apa pun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang Anda pikirkan dalam otak Anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Ungkapan ini saya peroleh dari blog seorang teman. Saya setuju dengan ungkapan ini. Pikiran atau ide merupakan sesuatu yang mahal nilainya. Coba bayangkan! Selama ini kita hanya biasa menggunakan komputer. Kita biasa menggunakan mobil. Kita terbiasa menggunakan berbagai teknologi mutakhir.

Pernahkah terpikir, bagaimana kalau kemampuan kita meningkat? Bagaimana jika kita tidak saja pandai menggunakan, pandai mengoperasikan komputer, mobil atau HP? Bagaimana  kalau kita juga pandai membuat, membuat berbagai kreasi?

Perkembangan komputer merupakan contoh yang paling mudah. Dari tahun-tahun, komputer terus mengalami  kemajuan. Ada Windows 95, Windows 98, XP dan seterusnya. Belum lagi produk anti  virus komputer yang terus berkembang.

HP juga tidak jauh berbeda. Dari waktu ke waktu terus mengalami kemajuan.

Bagaimana keadaan orang-orang yang pandai membuat komputer? Dia terus menerus menangguk keuntungan  atau kekayaan. Sementara kita hanya sebagai market mereka saja. Apa kelebihan mereka dibandingkan dengan kita? Mereka memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam membuat). Sedangkan kita hanya memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam menggunakan serta mengoperasikan saja).

Coba bayangkan! Bila semua orang yang mengetahui cara pembuatan komputer telah tutup usia dan tidak ada re-generasi atau transfer ilmu, apa yang terjadi? Ilmu itu menjadi sesuatu yang amat mahal.

Betapa berharganya, betapa tingginya nilai Thomas Alva Edison yang telah menemukan lampu pijar,  Alexander Graham Bell yang telah menemukan telepon.

Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Orang yang mengetahui dan mengamalkan shalat sunnah fajar dan shalat sunnah isyraq lebih bernilai dari orang yang tidak mengetahuinya.

Coba bayangkan! Ada 3 anak sekolah yang sedang menghadapi ujian sekolah dalam bentuk multiple choice.  Anak pertama termasuk anak yang malas belajar, sehingga ketika ujian dia menyontek temannya. Sebelumnya dia memilih jawaban A, namun begitu melihat jawaban temannya B, dia langsung mengubahnya. Anak yang kedua, juga termasuk anak yang kurang perhatian dengan pelajaran. Sehingga di saat menjawab pertanyaan ujian, dia menghitung kancing dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas.

Sedangkan anak yang ketiga merupakan anak yang pandai. Bila di rumah, pelajaran yang diperoleh di sekolah, dia kembali mengulangnya. Sementara di sekolah, dia memperhatikan pelajaran yang sedang disampaikan oleh gurunya. Tidak heran, bila ujian dia tidak ragu-ragu dalam menjawab soal multiple choice. Dia tidak perlu menghitung kancing. Dia tidak perlu menyontek. Andaikan dia mengetahui bahwa jawabannya berbeda dengan jawaban teman, dia tidak akan ragu pada  jawabannya sendiri. Bila di dalam pilihan jawaban yang tersedia tidak terdapat jawaban yang benar, maka dia akan bertanya kepada gurunya. Dia akan bertanya, “Mana jawaban yang benar, Bu atau Pak?”

Coba bandingkan! Anak ketiga dengan anak yang pertama dan kedua. Anak yang pertama menjadi anak yang peragu. Anak yang kedua menjadi anak yang suka berspekulasi, tanpa mengetahui adanya kepastian. Sedangkan anak yang ketiga, melangkah dengan pasti. Melangkah tanpa

ragu dan tanpa berspekulasi lagi.

source: arnabgaizir.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s