Belajar dari Kehidupan

<br></br>

Ada seorang bapak bernama Pak Broto yang hidupnya lumayan susah. Dia mempunyai dua orang anak, Eko dab Eki. Eko adalah seorang penjual Minuman Jahe Hangat, sedangkan anaknya Eki seorang penjual Es Kelapa Muda. Kedua Anak Pak Broto ini sudah menikah semua. Pada suatu Hari Pak Broto ini sedang berpikir tentang kedua anaknya sehingga beliau ini menderita penyakit hipertensi yang bisa dibilang cukup parah. Sudah dibawa ke puskesmas dan rumah sakit tapi tidak sembuh-sembuh. Anaknya si Eko dan Eki juga ikut bingung dan susah. Apa sih yang menyebabkan penyakit dari Pak Broto ini?

Pada suatu siang, Pak Broto sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Ia memikirkan mengapa siang ini begitu panas sekali sehingga membuat ia berkeringat. Setelah itu ia berpikir lagi.

“Hmm…Gimana yah nasib anak saya Eko kalo hari panas begini. Padahal anaknya lagi sakit dan butuh obat. Tapi, kalo panas terik kayak gini, siapa yang mau beli Jahe hangatnya yah ?” Geram Pak Broto

Ia terus berpikir siang itu. Ia ingin sekali membantu anaknya, Eko yang anaknya sakit. Tapi, ia sendiri untuk makan saja sulit. Apalagi mau membantu membelikan obat untuk cucunya tadi. Karena kecapekan dalam berpikir, akhirnya Pak Broto tertidur di kursi terasnya. Tiba-tiba saja Pak Broto ini dibangunkan oleh bunyi hujan deras.

Kretek…kretek…kretek…

Akhirnya, dia masuk rumah. Ketika sore hari itu hujan turun dengan derasnya, lagi-lagi Pak Broto berpikir nasib anaknya yang lain (Yah, beginilah orang tua yang sayang kepada kita). Setelah Anaknya Eko yang dipikirkan kali ini iya ganti memikirkan anaknya yang Eki.

Ia berpikir bagaimana nasib anaknya yang bernama Eki, “Mana laku dagangan es kelapa mudanya, kalo hujan deras dan cuaca dingin seperti ini.”

Dia makin punya pikiran yang tidak karu-karuan. Dia memikirkan anaknya Eko yang tadi sudah tidak laris, kali ini kok Eki ga laku juga dagangannya. “Wah gimana nasib anak-anakku ini. Sementara aku, untuk membiayai hidupku sendiri saja tak mampu. Aku ini bapak macam apa.” gerutu Pak Broto.

Akhirnya, Pak Broto jatuh sakit, dia terkena hipertensi. Anaknya si Eko dan Eki tadi yang mendengar bapaknya sakit, segera membawa ke rumah sakit. Namun, ternyata tidak ada hasilnya juga. Salah satu tetangga Pak Broto ada yang jadi dokter. Akhirnya, ia mau memberikan pengobatan gratis pada Pak Broto ini.

Dokter itu bertanya pada Pak Broto, “Pak, sebenarnya bapak ini kok bisa sakit kayak gini, kenapa to Pak? Kan Bapak udah berobat ke mana-mana, tapi kok belum sembuh juga. Kayaknya, sakit bapak ini ada yang aneh.” Tanya Pak dokter.

“Saya juga gak tahu, Dokter,” kata Pak Broto.

“Kalo menurut saya, Bapak sakit karena ada yang mengganjal di pikiran.” Jawab dokter.

”Iya, benar, Dokter,” kata Pak Broto.

”Memangnya apa yang mengganjal pikiran Bapak?” tanya dokter.

“Begini Pak dokter, saya ini kasihan sama anak-anak saya. Saya memikirkan anak saya si Eko saat di panas terik. Saya berpikir apa dagangan si Eko ini akan laku kalo panas terik begini. Karena itu, saya jadi sedih. Belum lagi kalau hujan datang dan cuaca dingin merasuk, saya ganti memikirkan anak saya si Eki, yang sedang jualan Es Kelapa Muda. Mana laku dagangan anak saya. Sementara, saya sebagai bapak tidak bisa bertindak apa-apa.” Kata Pak Broto.

Lalu, dokter itu tersenyum. “Pak, coba mulai sekarang, Bapak balik pikiran Bapak. Jikalau sekarang saat panas terik, bapak pikirkan betapa larisnya dagangan anak Bapak si Eki. Selain itu, saat cuaca dingin dan hujan tiba, pikiran Bapak harus berbalik kepada si Eko, yang sedang laris-larisnya jualan minuman jahe hangat.” Kata Pak dokter.

Lalu Pak Broto itu mengangguk-angguk kepalanya.

Pak Broto pun mengikuti anjuran dokter tadi. Akhirnya, Pak Broto pun sembuh dari sakit hipertensinya, dan hidupnya pun berubah sejak saat itu.

***

Apa sih yang dapat kita petik dari cerita ini? Kita harus senantiasa mensyukuri apa yang kita dapat saat ini, namun banyak sekali orang-orang yang lebih mendramatisir suatu musibah. Padahal, mereka pada waktu yang sama juga mendapatkan sebuah berkah atau kebaikan. Tapi kita sebagai sering kali melupakan sebuah keberuntungan dan lebih mendramatisir suatu musibah yang datang kepada kita. Padahal jika kita mau mensyukuri apa yang telah kita dapat dan sabar serta tawakkal saat musibah datang, Hidup kita lebih tenang.

By Bayu Mukti

source: indonesia.heartnsouls.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s