Nuansa bening: Busuknya kebencian

by Unknown

Seorang Ibu Guru Taman Kanak-Kanak (TK) mengadakan “permainan”.
Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa sebuah kantong plastik transparan dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa…tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang telah disepakati, masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3, bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang mereka benci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut ke mana pun mereka pergi, bahkan ke toilet sekali pun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk; murid-murid mulai mengeluh; apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.

Setelah 1 minggu, murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu?”

Maka, keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut. Pada umumnya, mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk ke mana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya…”

***

Sahabat yang penuh inspirasi…

Tidak jarang kita membenci seseorang, bahkan sangat membencinya. Sebagai manusia biasa, hal itu wajar. Akan tetapi, menjadi tidak wajar apabila kebencian itu mengakibatkan tertutupnya pintu hati kita untuk memaafkan orang yang kita benci.

Seperti cerita di atas, kalau kita selalu menyimpan kebencian di dalam jiwa kita, apalagi kebencian yang berbuah dendam, itu ibaratnya kita telah merelakan diri untuk membawa sesuatu yang busuk ke mana pun kita pergi. Dan, karena kebusukan itu, semua orang pada menjauh, tidak mau berdekatan dengan kita karena mereka tidak mau merasakan apalagi tertulari oleh kebusukan yang kita bawa.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama belajar untuk merelakan diri melapangkan dada dan membuka hati untuk memaafkan orang-orang yang kita benci, yang terkadang kita tidak tahu akar dari kebencian kita sendiri. Bila kita bisa hidup berdampingan dengan cara saling memaafkan, sungguh betapa indah hidup yang akan kita lalui, betapa nikmat perjalanan hidup kita, tanpa harus merasakan “bau” dari kebencian.

Ingin kisah inspiratif yang lain? Klik di sini >>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s