Nuansa bening: Don’t Judge a book by its cover

“Don’t judge a book by its cover”

American proverb

Sahabat yang penuh kasih dan cinta…

Berikut ini ada sebuah kisah yang sangat inspiratif dan sarat dengan pelajaran hidup. Sebuah kisah yang akan mengantarkan kita pada permenungan yang mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Sebuah kisah yang akan membuka tabir kesadaran kita tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, berperilaku, dan menilai seseorang. Sebuah kisah yang dengan kebisuannya akan memberikan pelajaran hidup yang mencerahkan pada kehidupan kita.

Selamat membaca!!!

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya di sana, sang sekretaris universitas langsung mendapati kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu pimpinan Harvard,” kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka dengan harapan pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pimpinannya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela napas panjang dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang pimpinan Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata kepadanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Ia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, ia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya dengan mata yang menyorotkan harap.

Pemimpin Harvard itu tidak bergeming, wajahnya bahkan memerah. Ia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” wanita itu menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Pimpinan Harvard itu memutar matanya. Ia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat, wanita itu terdiam. Pimpinan Harvard merasa senang. Mungkin ia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh kepada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”

Suaminya mengangguk. Wajah pimpinan Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Standford bangkit dan berjalan pergi. Mereka melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s