Pengungsi Timtim

Lelaki itu sedang berjongkok di depan rumahnya. Keempat anaknya yang masih kecil-kecil juga berjongkok. Mereka tampak sibuk membersihkan butir-butir jagung yang berserakan. Tiada kata, tiada suara. Hening. Sementara matahari siang terasa menyengat.

Kalau tadi saya menyebut “rumah”, itu tidak lebih dari tempat berteduh beratap dedaunan kering dan berdinding anyaman batang bambu. Ada sebuah ruang sempit di bagian depan rumah, di samping pintu masuk. Dari ruangan itu mengepul asap dari kayu bakar. Sebuah ceret air berpantat hitam teronggok di atas tungku berupa susunan batu kali.

Paulus, nama lelaki itu, menatap penuh tanda tanya ketika saya menyapanya. Wajahnya berubah sedikit ramah ketika aktivis sebuah LSM memperkenalkan saya sebagai jurnalis televisi. Ayah empat anak asal Timor Timur itu mengaku sudah sepuluh tahun menetap di kamp pengungsi itu. Bersama ribuan pengungsi yang lari dari Timor Timur pasca konflik 1999, mereka ditampung di Kamp Pengungsi Tuapukan, Nusa Tenggara Timur.

Seperti halnya Paulus, ribuan warga Timtim yang pro integrasi, yang memilih bergabung dengan Indonesia, saat itu terpaksa harus meninggalkan kampung mereka karena keselamatan mereka terancam. Banyak diantara mereka yang pro Indonesia waktu itu yang dibunuh oleh saudara-saudara mereka sendiri yang waktu itu berpihak pada opsi yang berbeda, yakni kemerdekaan.

Konflik yang berbuntut pisahnya Timor Timur sebagai bagian Indonesia waktu itu sampai sekarang menyisakan tragedi kemanusiaan. Selaian pembantaian massal yang terjadi waktu itu, mereka yang selamat dan melarikan diri ke wilayah Indonesia ditampung di berbagai pemukiman pengungsi dengan kondisi yang memprihatinkan. Sepuluh tahun telah berlalu. Banyak diantara kita, termasuk saya, seakan lupa bahwa ada masalah yang belum terselesaikan. Kita seakan merasa urusan saudara-saudara kita yang waktu itu memilih merah putih ketimbang merdeka juga sudah selesai.

Pertemuan saya dengan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen menyadarkan saya bahwa para pengungsi itu masih ada. Rencana Ale dan Nia mengangkat kisah para pengungsi tersebut dalam film “Tanah Air Beta” mendorong saya untuk berkunjung ke kamp pengungsi di Oebelo dan Tuapukan. Dua dari beberapa kamp pengungsian yang masih ada di wilayah NTT. Dari cerita Ale dan Nia tentang kondisi pengungsi di sana, saya dan tim Kick Andy tergerak untuk melihat langsung di lokasi.

Paulus hanya salah satu dari mereka. Paulus hanya satu dari ribuan orang yang harus bertahan hidup dengan kondisi seperti itu. Saya hanya bisa menahan nafas melihat kondisi “rumah” ayah empat anak itu yang hanya terdiri dari satu kamar ukuran empat kali empat. Lantainya tanah kering. Ruangan semakin terasa sempit karena tumpukan barang-barang dan peralatan masak. Di situlah Paulus bersama istri dan semua anak mereka tidur sekaligus beraktivitas.

Untuk bisa bertahan hidup, Paulus dan hampir semua pengungsi menjual tenaga mereka sebagai buruh tani. Mereka menggarap lahan kebun masyarakat setempat dengan upah hasil kebun tersebut. “Kami tidak punya keahlian selain bertani,” ujar Paulus. Sementara saat ditampung di tempat itu, para pengungsi tidak diberi lahan untuk digarap. Begitu pula status tanah yang mereka tempati sampai sekarang tidak jelas. Tak heran jika mereka sampai saat ini tergantung pada “rasa belas kasihan” penduduk lokal.

Dalam pesawat, saat meninggalkan Kupang, saya merenung. Bagi saya dan siapa pun yang datang ke kamp pengungsi, situasi di sana bagaikan mimpi buruk yang hanya terasa sesaaat. Ketika kita terjaga, mimpi itu akan hilang.

Saya hanya sehari di kamp pengungsi. Hanya sehari merasakan kepedihan. Hanya sehari melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan para pengungsi di sana. Hanya sehari menyaksikan anak-anak berebut permen dan bolpoin dari tangan saya. Hanya sehari melihat anak-anak setengah telanjang. Hanya sehari melihat anak-anak berpakaian kumuh. Hanya sehari melihat jagung atau segenggam beras yang dimasak seadanya. Semuanya hanya mimpi buruk dalam sehari.

Sesudah itu, saya akan kembali menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Kembali menikmati semua fasilitas kota metropolitan yang serba modern. Kembali melihat orang berlalu lalang di mall-mall dengan dasi dan baju mahal. Melihat tawa riang anak-anak muda di cafe-cafe dengan laptop di depan mereka. Melihat anak-anak kecil dengan nikmat menyantap es krim di restoran mahal.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang berada di kamp pengungsian? Mimpi buruk itu harus mereka lalui selama puluhan tahun. Sebelum tidur sampai ketika bangun, mereka tetap melihat masa depan yang tak menentu. Melihat anak-anak mereka yang terpaksa tumbuh dan besar dengan kondisi kekurangan gizi. Setiap bangun tidur, mereka sudah dihadapkan pada pertarungan untuk mempertahankan hidup.

Sungguh ironis. Bukankah dulu mereka mempertaruhkan nyawa demi Indonesia? Bukankah mereka berada di sana karena membela keyakinan pada merah putih? Adakah kondisi yang mereka terima sekarang ini sebagai imbalan atas keyakinan itu?

Source: kickandy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s